Kisah Taubatnya Tukang Sihir Fir'aun
.jpeg)
KompasNusantara - Untuk mengalahkan Nabi Musa yang sangat dibencinya itu, Fir’aun berusaha mendatangkan belasan ribu penyihir di sisinya. Para tukang sihir itupun datang dari berbagai negeri. Kekutannya mereka juga beragam, mulai dari melakukan sihir paling umum hingga yang luar biasa.
Kedatangan para tukang sihir di sisi Fir’aun bukan hanya sekedar memenuhi panggilan. Ada kepentingan politik di dalamnya. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan jabatan di sisi Fir’aun dan memperkaya diri mereka sendiri.
Para penyihir itu bertanya, “Apakah kami akan mendapatkan imbalan, jika kami menang?”
Kemudian Fir’aun menjawab dengan sombong, “Ya, bahkan kamu pasti termasuk orang-orang yang dekat denganku.” Permintaan apapun disanggupi Fir’aun asalkan dapat mengalahkan Nabi Musa dan Harun. Harta dan jabatan bukanlah hal yang sulit bagi penguasa tanah Mesir kala itu.
Maka berkumpulkan para tukang sihir tersebut di tanah lapang. Mereka berhadapan dengan Nabi Musa yang ditemani Nabi Harun. Selain kakaknya tersebut, Nabi Musa hanya membawa sebilah tongkat guna menopang dirinya tersebut.
Pertandingan adu kekutan antara para tukang sihir dan Nabi Musa disaksikan seluruh penduduk tanah Mesir. Mereka terlihat antusias menantikan sihir macam apa yang akan dikeluarkan para tukang sihir papan atas tersebut. Bahkan para penduduk membuat survey di antara mereka tentang siapa yang akan memenangkan peraduan tersebut. Semuanya menilai bahwa tukang sihirlah yang akan menang.
Para tukang sihir berkata, “Hai Musa, kamukan yang akan melemparkan lebih dahulu ataukan kamu yang akan melemparkan?”
Nabi Musa menjawab, “Lemparkanlah lebih dahulu!”
Saat tukang sihir memperlihatkan kekuatan mereka masing-masing. Sihirnya itu membuat setiap yang hadir merasa takjub. Salah satu penyihir melemparkan tongkat dan tali serupa ular ke arena peraduan.
“Demi kekuasaan Firaun, sungguh kami benar-benar akan menang,” ujar salah satu penyihir. Kemudian tempat itu dipenuhi ular yang saling bertindih.
Sementara orang-orang kagum sekaligus merasa takut akan kekuatan yang seakan tak ada tandingannya tersebut. Termasuk juga Nabi Musa.
Para penyihir melumuri tongkat dan tali mereka dengan air raksa sehingga terlihat seperti bergerak dan memanjang layaknya ular sungguhan. Tongkat dan tali tersebut persis bak ular-ular raksasa yang sangat menakutkan.
Di sisi lain, Fir’aun terlihat sangat senang dan bangga. Baginya, kemenangan mutlak di sisinya dan kekalahan akan segera menimpa Nabi Musa. Di matanya, sihir tersebut jelas mengalahkan kekuatan Nabi Musa sebelumnya.
Namun, ketakutan Nabi Musa dan kesombongan Fir’aun tak berlangsung lama. Lantaran Nabi Musa mendapat wahyu agar melemparkan tongkatnya ke hadapan ular-ular ciptakan tukang sihir.
“Dan Kami wahyukan kepada Musa, ‘Lemparkanlah tongkatmu!’ Maka tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka.” (QS. Al Araf: 117).
Maka tongkat tersebut segera berubah menjadi ular yang sangat besar dan menakutkan. Ular itu memiliki kaki, leher, kepala, hingga gigi. Saking besarnya ular tersebut hingga mampu menelan seluruh ular yang ada di sana hingga tidak tersisa satu pun.
Tentu saja momen tersebut membuat siapa pun yang ada di sana ciut seketika. Termasuk juga para tukang sihir yang datang. Mereka telah menyaksikan sendiri mukjizat dan kekuasaan Allah. Tentunya yang lebih besar dan dahsyat dibandingkan sihir mereka.
Lantas para tukang sihir segera bersujud seraya berkata, “Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam, yaitu Tuhannya Musa dan Harun.”
Fir’aun yang tak terima perbuatan para tukang sihirnya mengancam mereka dengan ancaman akan dipotong kaki dan tangan mereka. Kaki dan tangan mereka akan dibalik dan disalib di pohon kurma.
Fir’aun berkata, “Mengapa kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya ini benar-benar tipu muslihat yang telah kamu rencanakan di kota ini, untuk mengusir penduduknya. Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini). Pasti akan aku potong tangan dan kakimu dengan bersilang (tangan kanan dan kaki kiri atau sebaliknya), kemudian aku akan menyalib kamu semua."
Walaupun sudah diancam dengan hukuman yang sangat pedih, para tukang sihir itu tak gentar. Mereka tetap memihak Nabi Musa dan Harun. Tak seperti Fir’aun, keberpihakannya kali ini bukan untuk mendapatkan harta atau jabatan, melainkan karena mereka sudah meneguhkan hati untuk memilih jalan Allah.
Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami, dan engkau tidak melakukan balas dendam kepada kami, melainkan karena kami beriman kepada ayat-ayat Tuhan kami ketika ayat-ayat itu datang kepada kami.”
Kemudian mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikan kami dalam keadaan muslim (berserah diri kepada-Mu.”
Demikianlah kisah taubat para tukang sihir suruhan Fir’aun. Sungguh sebuah nikmat yang amat sangat tak ternilai saat dapat meninggal dunia dalam keadaan muslim. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang khusnul khotimah.
Wallahu ‘alam.